Tampilkan postingan dengan label HOME. Tampilkan semua postingan

PSB (Penerimaan Santri Baru) Tahun 1442-1443 H

0 komentar



๐Ÿ•‹ PSB (Penerimaan Santri Baru) Tahun 1442-1443 H ๐Ÿ“•
๐Ÿ•Œ PonPes Al Irsyad Kudus ๐ŸŒƒ

Telah dibuka Pendaftaran Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Irsyad Kudus, tempat menghafal Al Qur’an bersanad,dengan kajian kitab kuning ala manhaj salaf. Metode One Day 3 Juz untuk menjaga hafalan para santri.



๐Ÿ“š SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN
1. Perempuan minimal lulus SD/MI
2. Datang dengan diantar oleh Orang tua ataupun Wali
3. Mengisi formulir pendaftaran & kesediaan mentaati peraturan pesantren (Online/Offline)
4. Bersedia melengkapi kebutuhan administrasi PP Al Irsyad Kudus
5. Menyerahkan foto 3x4 3 lembar
6. Menyerahkan Foto copy Akta kelahiran, KK, KTP Orang tua atau wali, & Ijazah terakhir.


๐Ÿ“ Formulir PSB : http://bit.ly/FormPSB2021_Al-IrsyadKudus
๐Ÿ“„ Profil PonPes Al Irsyad Kudus : http://bit.ly/Profil_PPAl-IrsyadKudus


๐Ÿ“ TATA CARA PENDAFTARAN :
- Isi Link Formulir Online (Tertera di atas)
- Laporan via WA ketika sudah mengisi Form Online
- Seleksi masuk dan kelengkapan Administrasi bisa diserahkan ketika datang ke Pesantren

Info lebih lanjut silahkan hubungi :
H. Syahrul Falih 085 600 308 610
Atau untuk whatsapp langsung klik  di sini

--------------------------------
Jika postingan ini bermanfaat, silahkan klik LIKE, KOMENTAR, dan BAGIKAN
--------------------------------
PonPes Al Irsyad Kudus
Jln Kudus - Pati Dukuh Kauman RT 06 Rw 04, Desa Ngembalrejo Kec. Bae, Kab. Kudus




Jadwal Kegiatan PonPes Al Irsyad Kudus





Read More »

RIWAYAT SYEH AHMAD JAUHARI UMAR (PENYEBAR KITAB MANAKIB JAWAHIRUL MA’ANI)

0 komentar
Kitab Manaqib JAWAHIRUL MA’ANI adalah manaqib (riwayat hidup yang menceritakan tentang Sulthonul Auliya’ Syech Abdul Qodir Al Jilani (ada yang menyebut Al Jaelani). Mulai dari Kelahirannya, perjalanan beliau menuntut ilmu, karomah-karomahnya sampai pada wafatnya.

Kitab Manaqib ini di susun oleh seorang ulama Almarhum Almagfurillah KH. Ahmad Jauhari Umar. Dulu beliau pemimpin Pondok Pesantren Darus Salam, Pasuruan Jawa Timur.
KH. Ahmad jauhari umar mengajarkan dan ‘mengijazahkan’ manaqib ini kepada para murid-murid beliau. Dari murid-murid beliau inilah manaqib ini akhirnya tersebar luas ke seluruh nusantara bahkan mungkin sampai ke negara tetangga juga.

Di dalam kitab manaqib (pada halaman belakang) tersebut juga di jelaskan manfaat dari manaqib tersebut dan cara pengamalannya. Misalnya : Supaya bisa mendapatkan ilmu Laduni , luas rezki maka setiap hari membaca wirid Ya Badii’ 946x di lanjutkan membaca manaqib Jawahirul Ma’ani tersebut.

Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilahirkan pada hari Jum’at legi tanggal 17 Agustus 1945 jam 02.00 malam, yang keesokan harinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta. Tempat kelahiran beliau adalah di Dukuh Nepen Desa Krecek kecamatan Pare Kediri Jawa Timur. Sebelum berangkat ibadah haji, nama beliau adalah Muhammad Bahri, putra bungsu dari bapak Muhammad Ishaq. Meskipun dilahirkan dalam keadaan miskin harta benda, namun mulia dalam hal keturunan. Dari sang ayah, beliau mengaku masih keturunan Sultan Hasanudin bin Sunan Gunung Jati, dan dari sang ibu beliau mengaku masih keturunan KH Hasan Besari Tegal Sari Ponorogo Jawa Timur yang juga masih keturunan Sunan Kalijogo.

Pada masa kecil Syaikh Ahmad Jauhari Umar dididik oleh ayahanda sendiri dengan disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Diantaranya adalah menghafal kitab taqrib dan maknanya dan mempelajari tafsir Al-Qur’an baik ma’na maupun nasakh mansukhnya.

Masih diantara kedisiplinan ayah beliau dalam mendidik adalah : Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak diperkenankan berteman dengan anak-anak tetangga dengan tujuan supaya Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak mengikuit kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak tetangga. Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilarang merokok dan menonton hiburan seperti orkes, Wayang, ludruk dll, dan tidak pula boleh meminum kopi dan makan diwarung. Pada usia 11 tahun Syaikh Ahmad Jauhari Umar sudah mengkhatamkan Al-Qur’an semua itu berkat kegigihan dan disiplin ayah beliau dalam mendidik dan membimbing.

Orang tua Syaikh Ahmad Jauhari Umar memang terkenal cinta kepada para alim ulama terutama mereka yang memiliki barakah dan karamah. Ayah beliau berpesan kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar agar selalu menghormati para ulama. Jika sowan (berkunjung) kepada para ulama supaya selalu memberi uang atau jajan (oleh-oleh). Pesan ayahanda tersebut dilaksanakan oleh beliau, dan semua ulama yang pernah diambil manfaat ilmunya mulai dari Kyai Syufa’at Blok Agung Banyuwangi hingga KH. Dimyathi Pandegelang Banten, semuanya pernah diberi uang atau jajan oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar.

Sebenarnya, Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah menganut faham wahabibahkan sampai menduduki posisi wakil ketua Majlis Tarjih Wahabi Kaliwungu. Adapun beberapa hal yang menyebabkan Syaikh Ahmad Jauhari Umar pindah dari faham wahabi dan menganut faham ahlussunahdiantaranya adalah sebagai berikut :

1. Beliau pernah bermimpi bertemu dengan kakek beliau yaitu KH. AbduLlah Sakin yang wafat pada tahun 1918 M, beliau berwasiyat kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar bahwa yang benar adalah faham ahlussunah.

2. Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah bertemu dengan KH Yasin bin ma’ruf kedunglo kediri, pertemuan itu terjadi di warung / rumah makan Pondol Pesantren Lirboyo Kediri yang berkata kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar bahwa Syaikh Ahmad Jauhari Umar kelak akan menjadi seorang ulama yang banyak tamunya. Dan ucapan KH Yasin tersebut terbukti, beliau setiap hari menerima banyak tamu.

3. Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah berjumpa dengan Sayyid Ma’sum badung Madura yang memberi wasiyat bahwa kelak Syaikh Ahmad Jauhari Umar banyak santrinya yang berasal dari jauh. Dan hal itu juga terbukti.

4. Syaikh Ahmad Jauhari Umar bertemu dengan KH Hamid AbdiLlah Pasuruan, beliau berkata bahwa kelak Syaikh Ahmad Jauhari Umar akan dapat melaksanakan ibadah haji dan menjadi ulama yang kaya. Dan terbukti beliau sampai ibadah haji sebanyak lima kali dan begitu juga para putera beliau.

Hal tersebutlah yang menyebabkan Syaikh Ahmad Jauhari Umar menganut faham ahlussunah karena beliau merasa heran dan ta’jub kepada para ulamaahlussunah seperti tersebut di atas yang dapat mengetahui hal-hal rahasiaghaib dan ulama yang demikian ini tidak dijumpainya pada ulama-ulama golongan wahabi.

Dalam menghadapi setiap cobaan yang menimpa, Syaikh Ahmad Jauhari Umar memilih satu jalan yaitu mendatangi ulama. Adapun beberapa ulama yang dimintai do’a dan barokah oleh beliau diantaranya adalah :

1. KH. Syufa’at Blok Agung Banyuwangi.
2. KH. Hayatul Maki Bendo Pare Kediri.
3. KH. Marzuki Lirboyo Kediri.
4. KH. Dalhar Watu Congol Magelang.
5. KH. Khudlori Tegal Rejo Magelang.
6. KH. Dimyathi Pandegrlang Banten.
7. KH. Ru’yat Kaliwungu.
8. KH. Ma’sum Lasem.
9. KH. Baidhawi Lasem.
10. KH. Masduqi Lasem.
11. KH. Imam Sarang.
12. KH. Kholil Sidogiri.
13. KH Abdul Hamid AbdiLlah Pasuruan.

Selesai beliau mendatangi para ulama, maka ilmu yang didapat dari mereka beliau kumpulkan dalam sebuah kitab “Jawahirul Hikmah”.

Kemudian beliau mengembara ke makam – makam para wali mulai dari Banyuwangi sampai Banten hingga Madura. Sewaktu beliau berziarah ke makam Syaikh Kholil Bangkalan Madura, Syaikh Ahmad Jauhari Umar bertemu dengan Sayyid Syarifuddin yang mengaku masih keturunan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA. Kemudian Sayyid Syarifuddin memberikan ijazah kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar berupa amalan ‘MANAKIB JAWAHIRUL MA’ANY’ dimana amalan manakib Jawahirul Ma’any tersebut saat ini tersebar luas di seluruh Indonesia karena banyak Fadhilahnya, bahkan sampai ke negara asing seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Pakistan, tanzania, Afrika, Nederland, dll.

Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah mengalami masa-masa yang sulit dalam segala hal. Bahkan ketika putera beliau masih berada di dalam kandungan, beliau diusir oleh keluarga isteri beliau sehingga harus pindah ke desa lain yang tidak jauh dari desa mertua beliau kira-kira satu kilometer. Ketika putera beliau berumur satu bulan, beliau kehabisan bekal untuk kebutuhan sehari-hari kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar memerintahkan kepada isteri beliau untuk pulang meminta makanan kepada orang tuanya. Dan Syaikh Ahmad Jauhari Umar berkata, “Saya akan memohon kepada Allah SWT”. Akhirnta isteri beliau dan puteranya pulang ke rumah orang tuanya.

Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat duha dan dilanjutkan membaca manakib Jawahirul Ma’any. Ketika tengah membaca Manakib, beliau mendengar ada orang di luar rumah memberikan ucapan salam kepada beliau, dan beliau jawab di dalam hati kemudian beliau tetap melanjutkan membaca Manakib Jawahirul Ma’any hingga khatam. Setelah selesai membaca Manakib, maka keluarlah beliau seraya membukakan pintu bagi tamu yang memberikan salam tadi.

Setelah pintu terbuka, tenyata ada enam orang yang bertamu ke rumah beliau. Dua orang tamu memberi beliau uang Rp 10.000, dan berpesan supaya selalu mengamalkan Manakib tersebut. Dan sekarang kitab manakib tersebut sudah beliau ijazahkan kepada kaum Muslimin dan Muslimat agar kita semua dapat memperoleh berkahnya. Kemudian dua tamu lagi memberi dua buah nangka kepada beliau, dan dua tamu lainnya memberi roti dan gula.

Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar selalu melaksanakan pesan tamu-tamu tersebut yang menjadi amalan beliau sehari-hari. Tidak lama setelah itu, setiap harinya Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi rizki oleh Allah senanyak Rp. 1.500 hingga beliau berangkat haji untuk pertamakali pada tahun 1982.

Kemudian pada tahun 1983 Syaikh Ahmad Jauhari Umar menikah dengan Sa’idah putri KH As’ad Pasuruan. Setelah pernikahan ini beliau setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp 3.000 mulai tahun 1983 hingga beliau menikah dengan puteri KH. Yasin Blitar.

Setelah pernikahan ini Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp.11.000 sampai beliau dapat membanun masjid. Selesai membangun masjid, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp. 25.000 hingga beliau membangun rumah dan Pondok Pesantren.

Setelah membangun rumah dan Pondok Pesantren, Syaikh Ahmad Jauhari Umar tiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp.35.000 hingga beliau ibadah haji yang kedua kalinya bersama putera beliau Abdul Halim dan isteri beliau Musalihatun pada tahun 1993.

Setelah beliau melaksanakan ibadah haji yang kedua kalinya pada tahun 1993, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp 50.000 hingga tahun 1995 M. Setelah Syaikh Ahmad Jauhari Umar melaksanakan ibadah haji yang ketiga kalinya bersama putera beliau Abdul Hamid dan Ali Khazim, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp. 75.000 hingga tahun 1997.

Setelah Syaikh Ahmad Jauhari Umar menunaikan ibadah haji yang keempat kalinya pada tahun 1997 bersama putera beliau HM Sholahuddin, Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi rizki oleh Allah setiap hari Rp. 200.000 hingga tahun 2002.

Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar berangkat haji yang ke limakalinya bersama dua isteri dan satu menantu beliau, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp. 300.000 sampai tahun 2003 M.

Di Pasuruan, Syaikh Ahmad Jauhari Umar mendirikan Pondok Pesantren tepatnya di Desa Tanggulangin Kec. Kejayan Kab. Pasuruan yang diberi nama Pondok Pesantren Darussalam Tegalrejo.

Di desa tersebut Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi tanah oleh H Muhammad seluas 2.400 m2 kemudian H Muhammad dan putera beliau diberi tanah oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar seluas 4000m2 sebagai ganti tanah yang diberikan dahulu.

Sejak saat itu Syaikh Ahmad Jauhari Umar mulai membangun masjid dan madrasah bersama masyarakat pada tahun 1998. namun sayangnya sampai empat tahun pembangunan masjid tidak juga selesai. Akhirnya Syaikh Ahmad Jauhari Umar memutuskan masjid yang dibangun bersama masyarakat harus dirobohkan, demikian ini atas saran dan fatwa dari KH. Hasan Asy’ari Mangli Magelang Jawa Tengah (Mbah Mangli – almarhum), dan akhirnya Syaikh Ahmad Jauhari Umar membangun masjid lagi bersama santri pondok. AlhamduliLlah dalam waktu 111 hari selesailah pembanginan masjid tingkat tanpa bantuan masyarakat. Kemudian madrasah-madrasah yang dibangun bersama masyarakat juga dirobohkan dan diganti dengan pembangunan pondok oleh santri-santri pondok

Maka mulailah Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengajar mengaji dan mendidik anak-anak santri yang datang dari luar daerah pasuruhan, hingga lama kelamaan santri beliau menjadi banyak. Pernah suatu hari Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengalami peristiwa yang ajaib yaitu didatangi oleh Syaikh Abi Suja’ pengarang kitab Taqrib yang mendatangi beliau dan memberikan kitabtaqrib dengan sampul berwarna kuning, dan kitab tersebut masih tersimpan hingga sekarang. Mulai saat itu banyak murid yang datang terlebih dari Jawa Tengah yang kemudian banyak menjadi kiyahi dan ulama.

Silsilah Syaikh Ahmad Jauhari Umar :

a. Dari ayah beliah adalah sbb :
1. Syaikh Ahmad Jauhari Umar bin
2. H. Thohir/Muhammad Ishaq bin
3. Umarudin bin
4. Tubagus Umar bin
5. AbduLlah Kyai Mojo bin
6. Abu Ma’ali Zakariya bin
7. Abu Mafakhir Ahmad Mahmud Abdul qadir bin
8. Maulana Muhammad Nasiruddin bin
9. Maulana Yufus bin
10. Hasanuddin Banten bin
11. HidayatuLlah Sunan Gunung Jati bin
12. AbduLlah Imamuddin bin
13. Ali Nurul ‘Alam bin
14. Jamaluddin Akbar bin
15. Jalaluddin Syad bin
16. AbduLlah Khon bin
17. Abdul Malik Al-Muhajir Al-Hindi bin
18. Ali Hadzramaut bin
19. Muhammad Shahib Al-Mirbath bin
20. Ali Khola’ Qasim bin
21. Alwi bin UbaidiLlah bin
22. Ahmad Al-Muhajir bin
23. Isa Syakir bin
24. Muhammad Naqib bin
25. Ali Uraidzi bin
26. Ja’far As-Shadiq bin
27. Muhammad Al-Baqir bin
28. Imam Ali Zainal Abidin bin
29. Imam Husain bin
30. Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti
31. Sayyidina Muhammad RasuluLlah SAW.

b. Silsilah Syaikh Ahmad Jauhari Umar dari Ibu :
1 Syaikh Ahmad Jauhari Umar bin
2 KH Thahir bin/Moh Ishaq bin
3 Umarudin bin
4 Tuba bin
5 H. Muhammad Nur Qesesi bin
6 Pangeran Bahurekso bin
7 Syeh Nurul Anam bin
8 Pangeran Cempluk bin
9 Pangeran Nawa bin
10 Pangeran Arya Mangir bin
11 Pangeran Pahisan bin
12 Syekh Muhyidin Pamijahan bin
13 Ratu Trowulan bin
14 Ratu Ta’najiyah bin
15 Pangeran Trowulan Wirocondro bin
16 Sulthan AbduRrahman Campa bin
17 Raden rahmat Sunan Ampel bin
18 Maulana Malik Ibrahim bin
19 Jalaluddin bin
20 Jamaludin Husen bin
21 AbduLlah Khon bin
22 Amir Abdul Malik bin
23 Ali Al-Anam bin
24 Alwi Al-Yamani bin
25 Muhammad Mu’ti Duwailah bin
26 Alwi bin
27 Ali Khola’ Qasim bin
28 Muhammad Shahib Al-Mirbath bin
29 Ali Ba’lawi bin
30 Muhammad Faqih Al-Muqaddam bin
31 Abdullah AL-Yamani bin
32 Muhammad Muhajir bin
33 ‘Isa Naqib Al-basyri bin
34 Muhammad Naqib Ar-Ruumi bin
35 Ali Uraidzi bin
36 Ja’far Shadiq bin
37 Muhammad Al-baqir bin
38 Ali Zainal Abidin bin
39 Husein As-Sibthi bin
40 Sayyidatinaa Fatimah Az-Zahra bin
41 Sayyidina Muhammad RasuluLlah SAW.
Meskipun beliau telah berpulang ke RahmatuLlah semoga Beliau mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya, dan berkah beliah selalu mengalir kepada kita semua….Amin

--------------------------------
Jika postingan ini bermanfaat, silahkan klik LIKE, KOMENTAR, dan BAGIKAN
--------------------------------
PonPes Al Irsyad Kudus
Jln Kudus - Pati Dukuh Kauman RT 06 Rw 04
Desa Ngembalrejo Kec. Bae, Kab. Kudus

Read More »

PEMBELAJARAN TAJWID DAN SEJARAHNYA

0 komentar




Tajwid Asalnya dari Lafadz Jawwada-Yujawwidu-Tajwiidan
ุฌูˆّุฏ ูŠุฌูˆّุฏ ุชุฌูˆูŠุฏุง
Artinya : Membuat Sesuatu Menjadi lebih Bagus.

QS. Al Muzammil Ayat 4 :
ูˆุฑุชู„ ุงู„ู‚ุฑุฃู† ุชุฑุชูŠู„ุง
"Dan Bacalah Al Quran dengan Tartil (Perlahan-lahan dan Tahsin)".

Adapun Makna Tartil disini Adalah :
ุชุฌูˆูŠุฏُ ุงู„ุญุฑูˆูِ ูˆู…ุนุฑูุฉِ ุงู„ูˆู‚ูˆูِ
"Membaca Huruf-hurufnya dengan Bagus (Sesuai dengan Makhroj dan Shifatnya) dan Tahu Tempat-tempat Waqof".

Diharapkan dengan Tajwid ini Bisa Mengucapkan Setiap Huruf sesuai dengan Makhrojnya Menurut Sifat-sifat Huruf yang diucapkan, baik Berdasarkan Sifat Asalnya maupun Berdasarkan Sifat-sifatnya yang Baru. Maka atas Perintah Alloh SWT diatas tentang Tartil lalu Rosululloh S.A.W. Mengajarkan Para Sahabat Demikian juga Berdasarkan Sebagaimana Turunnya Al Quran sehingga Pembacaan Al Quran ini Ternyata Bukanlah Suatu Ilmu Hasil dari Ijtihad (Fatwa) dari Para Ulama yang diolah Berdasarkan Dalil-dalil dari Al Quran dan Sunnah, Tetapi Pembacaan Al Quran ini Adalah Murni dari Suatu yang Taufiqi (diambil Terus) Melalui Riwayat dari Sumbernya yang Asalnya dari Pengajaran Rosulullah SAW.

Adapun Memang Penulisan Al Quran yg Awalnya Tanpa Titik lalu dijaman Sayyidinaa Utsman diperbaiki shg dikenalah dgn Qur'an Utsmani kemudian dilengkapi Baris-baris A'rob pada setiap Huruf dan Lafadznya yang diketuai oleh Abu Aswad Ad Duali dan Al Kholil bin Ahmad Al Farohidi, Hal itu dilakukan disaat Marak Umat Islam Banyak yang Salah ketika Membaca Al Quran shg Perlu diluruskan Melalui Tulisan yg dikenal dgn Qur'an Utsmani ini dan diperbanyak Copiannya Sebanyak 7 Kitab yang disebarkan pada 7 Negara kemudian pada Abad ke-2 setelah Islam Menguasai Roma, Persia d.l.l. shg Banyak Bahasa Arab Bercampur dengan Bahasa-bahasa Negara Lain Taklukan Islam maka pada Abad ke-3 Para Ulama Tabi'in Membuat Rumusan Ijtihad dalam Ilmu Qiro'atnya Baik Riwayat Maupun Lahjahnya oleh Imam Abu ‘Ubaid Al Qosim Ibnu Salam dalam kitabnya yang Berjudul “Al Qiro'at” pada kurun ke-3 Hijrah, Termasuk Qiro'at yang Terkenal saat itu Apa yang disusun oleh Imam Abu ‘Umar Hafs

Ad Duri seperti Qiro'at Apa yang Sering Kita Baca saat ini Adalah Riwayat Imam Hafs bin Sulaiman ini, Termasuk juga Sya'ir-sya'ir Tajwid yang disusun oleh Imam Abu Mazahim Al Haqani.

Pada Abad ke-4 oleh Imam Ibnu Mujahid Al Baghdadi, Beliau Berhasil Mengumpulkan 7 Qiro'at Imam dengan 14 Imam Riwayat (Qiro'at Sab'ah) dalam Sebuah Kitabnya yang Berjudul : “Kitabus Sab’ah”, Maka dari Sinilah Banyak Para Ulama yang Mahir dan Trampil dalam Ilmu Qiro'at dgn Membuat Kitab-kitab Panduan Lengkap spt : Imam Abu ‘Amr Ad-Dani dengan Kitab At Taysirnya, Imam Asy Syatibi At Tahani dengan kitab Hirzul Amani wa Wajhut Tahaninya d.l.l. shg Ilmu Tajwid dengan Ilmu Qiro'at selalu Bergandengan. Berikutnya Ulama Pakar Tajwid dan Qiro'at yang Terkenal spt Imam Ibnul Jazari Melalui Kitab An-Nasyr, Toyyibatun Nasyr, At Tamhid (Matan Al Jazariyyah) dan Ad-Durratul Mudhiyyah dimana Beliau Membahas tentang  Ilmu Qiro'at 'Asyaroh (Sepuluh Imam Qiro'at dengan 20 Imam Periwayat) hingga sampai Kesininya. jika ditulis Ringkas Begini :

A. Para Imam Qiro’at Mutawwatir Sab’ah (Tujuh), sbb :
1. Imam Ibnu Katsir Mekah (45H-120H)
Beliau Belajar Qiro'at kepada Imam Abu Said Abdullah Al-Makhzumi dari Sahabat Ubay Bin Ka’ab R.A. dan Sahabat Umar Bin Khotthob R.A. sedangkan Kedua Murid Periwayatnya Adalah Imam Al-Bazi (170H-250H) dan Imam Qunbul (195H-291H)

2. Imam Nafi’ Isfahan Madinah (70H-169H)
Beliau Belajar Qiroat kepadaImam Abu Ja’far, Abdurahman Bin Harmaz Al-A’roj dan Imam Muslim Bin Jandab dari Sahabat Ibnu Abbas R.A, Sahabat Abi Hurairoh R.A. dan Sahabat Ubay Bin Ka’ab R.A. sedangkan Kedua Murid Periwayatnya Adalah Imam Qolun (120H-220H) dan Imam Wares (110H-177H).

3. Imam Abu Umar Bashroh Iraq (70H-154H)
Belajar Qiro'at kepada Imam Abu Ja’far Yazid dan Imam Hasan Al Bashri dari Sahabat Ubay Bin Ka’ab R.A. dan Sahabat Umar Bin Khotthob R.A. sedangkan Kedua Murid Periwayatnya Adalah Imam Ad-Duri (-Syawal 246H) dan Imam As-Susi (-261H).

4. Imam Ibnu Amir Damasqus Syiria (21H-118H),
Beliau Belajar Qiro'at kepada Abu Darda, Al-Mughiroh Al-Makhzumi dari Sahabat Usman Bin Affan R.A. sedangkan Kedua Murid Periwayatnya Adalah Imam Hisyam (153H-245H) dan Imam Ibnu Dzakwan (173H-242H).

5. Imam Ashim Abu Bakar Bin Abin Najud Bin Bahdilah Bin Malik Kufah (-127/128H)
Beliau Belajar Qiro'at kepada Imam Abdurrahman Abdullah Bin Habib As Salami dari Sahabat Usman Bin Affan R.A., Sahabat Ali Bin Abi Tholib R.A., Sahabat Ibnu Mas’ud R.A., Sahabat Zaid Bin Tsabit R.A. dan Sahabat Ubay Bin Ka’ab R.A. sedangkan Kedua Murid Periwayatnya Adalah Imam Syu’bah (93H-193H) dan Imam Hafes Bin Sulaiman (90H-180H), Inilah Bacaan yang Sering Kita Baca sampai saat ini di Indonesia.

6. Imam Hamzah Kufah (156H-216H)
Beliau Belajar Qiro'at kepada Imam Abu Muhammad Sulaiman Bin Mihrom Al-A’mas dan Imam Yahya Bin Watsad Al-Asdi dari Imam Ashim dan Imam Abi Syabil Al-Qomah Bin Qoyis dari Ibnu Mas’ud R.A. sedangkan Kedua Murid Periwayatnya Adalah Imam Kholaf (150H-229H) dan Imam Kholad (-220H).

7. Imam Ali Kisa’i Kufah (119H-189H)
Beliau Belajar Qiro'at kepada Imam Hamzah, Muhamad Bin Abi Layli dan Isa Bin Umar dari Imam Ashim sedangkan Kedua Murid Periwayatnya adalah Imam Abul Harits (-240H) dan Imam Ad-Duri (-246H).

B. Para Imam Qiro’at Masyhur ‘Asyaroh (Sepuluh), Antara lain :
1 . Imam Ya’qub Bin Ishaq Al-Harhari Bashroh (-205H).
2. Imam Kholaf Bin Hisyam Bin Tholib Al-A’Masyi Mekah (-229H).
3. Imam Ja’far Bin Al-Qo’qo Al-Makhzumi Madinah (230H).

C. Para Imam Qiro’at Syadz Arba’a ‘Asyaroh (Empat Belas), antara lain :
1. Imam Hasan Al-Bashri Bashroh (-110H).
2. Imam Ibnu Muhaisy (-123H).
3. Imam Yahya Ibnu Mubarol Al-Yazidi Baghdad (-202H).
4. Imam Abul Faroj Bin Ahmad Asy-Syambudzi Baghdad (-388H).

"Dari Beliau-beliau Inilah shg dikenal dengan Sebutan Qiro'ah Sab'ah, Qiro'ah 'Asyaroh dan Qiro'ah Arba'a 'Asyaroh sedangkan MURRI Bersanad Ilmu Qiro'ah dan Tajwidul Qur'annya kepada Mereka Khususnya kepada Imam Hafes bin Sulaiman".
ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตّูˆุงุจ


Sumber : Ust. Muhammad Djamhar Abdul Karim

kegiatan Santri PP Al Irsyad Kudus
Ziarah di Kyai Kholil Bangkalan


Read More »

HAFAL AL QUR'AN DALAM WAKTU 3 TAHUN

0 komentar

Mau hafal Alquran dalam waktu singkat? Di pondok pesantren Tahfidz  Al Irsyad Kudus ini kamu akan digembleng menjadi hafiz dan hafizah dalam waktu singkat (3 tahun).


Kudus, Jawa Tengah - Bagi umat Muslim, menjadi penghafal Alquran tentunya merupakan suatu keistimewaan. jadi, jika kamu tertarik untuk menghafalkan Alquran, kamu bisa banget lo mondok di Kudus, kota yang cukup terkenal dengan kota santrinya dan khususnya dalam kaderisasi penghafal Al Qur’an.

Di sana ada pondok pesantren yang khusus menerima calon-calon hafiz-hafizah yaitu Pondok Tahfidh Al Irsyad Kudus yang berada di Desa Ngembalrejo RT 06 RW 04 Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Memiliki lahan yang mumpuni dan asri guna menopang pembelajaran tahfidz Al Qur’an. Pendirinya adalah Ibu Nyai Siti Khodijah.
 
ket : Tampak Bangunan utara PP Al Irsyad Kudus


Di pondok pesantren khusus untuk penghafal Alquran tersebut, jika lancar kamu bisa menyelesaikan hafalan Alquran dalam jangka waktu tiga tahun, dengan motto harian pesantren pesatren adalah “One Day 3 Juz”, yang mana setiap santri diharuskan untuk mengaji Al Qur’an guna menjaga hafalannya yakni dengan membaca Al Qur’an minimal 3 juz di setiap harinya.

Pondok yang dirikan pada 2010 itu, kamu akan belajar meliputi tiga hal pokok. Apa saja itu? Yakni menghafal al-Qur’an 30 juz sesuai dengan tajwid dan makhrajnya secara bacaan arab aslinya. Menghafal al-Qur’an dengan pemantauan secara intensif di setiap harinya guna menjaga hafalannya yakni dengan program One Day 3 Juz. Pembelajaran kitab Kuning guna menopang dalam memahami Al Quran seperti Tafsir, Fiqh, Adabut Tilawah, dll

Metode Pengajaran
Untuk penyampaian materinya ada beberapa metode yang dilakukan, mulai dari musyafahah, takrir, mudarosah dan Tilawah, yang merupakan metode menghafal khas PP Al Irsyad Kudus. Tidak hanya fokus menghafalkan Alquran, para santri PP Al Irsyad Kudus juga diperbolehkan sekolah formal, Baik itu MTs, MA, ataupun kuliah, yang mana PP Al Irsyad Kudus di kelilingi oleh beberapa sekolah dan kampus yang mendukung dalam Kemajuan pendidikan yang tidak tersaingi oleh zaman.



One Day 3 Juz, pemantauan secara intensif yang dijalankan oleh PP AL Irsyad Kudus, yang mana dalam menjaga hafalan Al Qur’an itu lebih sulit daripada menghafalnya, maka dari itu program ini menjadi ciri khas dari pondok tersebut, dengan pemantauan dan pengecekan setiap minggunya. 

Apa hanya hafalan Al Qur’an saja? Tidak. PP Al Irsyad Kudus juga terdapat pembelajaran kitab kuning yang meliputi Tajwid dengan kitab matan jazariyah yang berjumlah 107 bait dan juga harus dihafalkan guna mendalami ilmu tajwid secara mendalam. Selain ilmu tajwid PP Al Irsyad Kudus juga memberikan pengajaran Tafsir tematik yakni tafsir Ayatul Ahkam yang menjelaskan tentang tafsir Al Qur’an yang berhubungan dengan hukum fiqihnya. Terdapat juga juga ilmu fiqih dengan kitab fathul Qorib, ilmu akhlaq dengan kitab ta’limul Muta’allim, hadis dnegan kitab Hasyiyah Abi Jamroh, ilmu nahmu dan shorof dengan kitab jurumiyah. Dan secara pemebelajaran kitab-kitab kuning tersebut yang menjdai ciri khas dari PP Al Irsyad Kudus adalah santri tidak hanya mengaji kitab kuning dengan tabarrukan atau mendengan saja, namun evaluasi dengan ujian berkala setian setengah tahun juga diadakan guna memantau hasil pembelajaran santri-santri PP Al Irsyad Kudus.

Tertarik? Jika iya, pondok yang kini sudah berdiri tegak dalam kurun waktu 10 tahun ini telah siap menerima  pendaftaran. Memiliki santri yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia.


Menghafal Alquran memang bukan hal yang mudah. Tapi lebih sulit lagi untuk menjaga hafalan. (SF)

ket : Tampak Bangunan Selatan (baru)


Read More »